Kaltim – jmpdnews.com
Massa Masih Bertahan, Gubernur Ngacir, Lalu Diteriaki Pengecut!
Kita update demo besar rakyat Kaltim. Sampai malam ini, massa masih bertahan. Sementara Gubernur Kaltim, ngacir ntah ke mana. Ia pun diteriaki “Gubernur Pengecut!” Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ribuan mahasiswa dan ormas berteriak lantang di depan Gedung DPRD Kaltim lalu bergeser ke Kantor Gubernur. Mereka membawa tuntutan; audit anggaran, transparansi pengadaan kendaraan dinas, renovasi rumah dinas gubernur, dan pemberantasan KKN. Mereka datang dengan idealisme, dengan keberanian, dengan tekad yang lebih keras dari kawat berduri yang melingkari kantor gubernur.
Namun panggung tragedi ini punya twist yang lebih tragis. Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud ternyata saudara kandung, abang dan adik. Sebuah fakta yang meledak jadi bara kemarahan rakyat. Bagaimana mungkin rakyat berharap pengawasan DPRD berjalan tegas, jika kursi eksekutif dan legislatif justru dikuasai oleh satu keluarga? Mahasiswa pun menilai ini bukan sekadar konflik anggaran, melainkan nepotisme terang-terangan yang merusak martabat demokrasi di Kaltim.
Lebih ironis lagi, ketika massa mendatangi Kantor DPRD, sang ketua Hasanuddin Mas’ud entah menghilang ke mana. Tidak ada batang hidungnya, tidak ada suara, tidak ada keberanian. Yang menemui mahasiswa hanyalah para wakil dewan lain, figuran yang dipaksa tampil karena sang ketua memilih bersembunyi. “Ketua DPRD jangan jadi stempel, gunakan hak angket!” teriak mahasiswa. “Kalau DPRD diam, berarti kalian ikut melindungi korupsi!”
Sementara itu, sang gubernur Rudy Mas’ud keluar dari gedungnya seperti bayangan pengecut, lalu bungkam. Tidak sepatah kata, tidak sebaris kalimat, hanya diam yang menusuk lebih tajam dari pedang. Mahasiswa pun meledak dalam teriakan, “Gubernur pengecut, takut bertemu rakyat sendiri!” Suara itu bukan sekadar orasi, melainkan jeritan sejarah yang mencatat seorang pemimpin yang memilih lari dari rakyatnya.
Aparat menurunkan 1.700 personel gabungan TNI–Polri, bukan untuk membuka ruang dialog, melainkan untuk menjaga pagar, mengalihkan arus lalu lintas, seolah rakyat adalah ancaman. Kota Samarinda pun berubah jadi panggung teater absurd. Rakyat berteriak, pemimpin bungkam, aparat berjaga. Tidak ada pembakaran, tidak ada penangkapan massal, hanya ada luka simbolik, rasa dikhianati, rasa dipermalukan, rasa ditinggalkan.
Malam itu, tragedi politik Kaltim ditulis dengan tinta hitam. Mahasiswa berdiri sebagai pahlawan yang masih berani bersuara, sementara gubernur tercatat sebagai aktor pengecut yang memilih diam, dan ketua DPRD sebagai sosok yang hilang dari panggung. Ironi yang begitu jelas, rakyat berteriak, pemimpin bungkam, wakil rakyat menghilang.
Tragedi ini bukan sekadar demonstrasi, melainkan panggung besar yang memperlihatkan betapa rapuhnya martabat seorang pemimpin ketika berhadapan dengan rakyatnya. Mahasiswa yang datang dengan idealisme justru dipertontonkan drama seorang gubernur yang memilih diam, seorang ketua DPRD yang memilih aman, dan sebuah kota yang dipaksa menonton. Publik hanya bisa membela mahasiswa, karena merekalah satu-satunya cahaya di tengah gelapnya teater keheningan kekuasaan.
Malam itu, Samarinda bukan sekadar kota, melainkan panggung tragedi. Mahasiswa berdiri sebagai aktor utama, aparat sebagai penjaga panggung, DPRD sebagai figuran yang kehilangan naskah, dan gubernur serta ketua DPRD sebagai tokoh pengecut yang jatuh martabatnya. Sejarah mencatat bukan keberanian mereka, melainkan keberanian mahasiswa. Sejarah menulis bukan suara DPRD, melainkan suara rakyat. Tragedi ini akan terus dikenang sebagai malam ketika rakyat berteriak, pemimpin bungkam, dan mahasiswa berdiri sebagai pahlawan.
Penulis : Redaksi
Editor : Arjuna
Sumber Berita : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar









