Cikarang – jmpdnews.com
Penyakit tetelo atau Newcastle Disease (ND) bukanlah wabah baru dalam dunia peternakan unggas. Ia telah dikenal puluhan tahun, namun ironisnya hingga kini masih menjadi momok paling menakutkan bagi peternak, khususnya peternak kecil dan rakyat. Setiap kali tetelo muncul, cerita yang sama selalu terulang: ayam mati massal, kerugian membengkak, dan peternak kembali menanggung beban sendirian.
Masalahnya bukan semata pada virus yang mematikan, melainkan pada sistem pencegahan yang rapuh. Tetelo adalah penyakit yang secara ilmiah sudah jelas: sangat menular, tidak dapat disembuhkan, dan hanya bisa dicegah melalui vaksinasi serta biosekuriti yang disiplin. Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa pengetahuan ini sering berhenti di atas kertas. Banyak kandang rakyat masih abai terhadap jadwal vaksin, sanitasi, dan kontrol lalu lintas orang maupun peralatan.
Lebih memprihatinkan, masih ada anggapan keliru bahwa tetelo bisa “diobati” dengan antibiotik. Padahal, langkah tersebut bukan hanya keliru, tetapi juga menyesatkan. Antibiotik tidak membunuh virus, sementara keterlambatan isolasi justru mempercepat penyebaran penyakit. Ketika ayam mulai lumpuh dan leher terpuntir, sesungguhnya itu adalah tanda bahwa wabah sudah terlambat dicegah.
Di sisi lain, negara dan pemerintah daerah belum sepenuhnya hadir secara nyata. Sosialisasi sering bersifat seremonial, tanpa pendampingan berkelanjutan. Peternak kecil dibiarkan berhadapan langsung dengan risiko, sementara kerugian akibat kematian ayam tidak pernah masuk dalam skema perlindungan usaha yang memadai. Tetelo akhirnya menjadi penyakit biologis sekaligus penyakit struktural: lahir dari lemahnya sistem perlindungan peternakan rakyat.
Opini publik perlu diarahkan ulang. Tetelo bukan sekadar musibah alam yang datang tiba-tiba, melainkan cermin dari kelalaian kolektif—baik peternak, penyuluh, maupun pembuat kebijakan. Tanpa komitmen serius pada vaksinasi massal, pengawasan lalu lintas unggas, dan edukasi berkelanjutan, wabah ini akan terus berulang, merugikan ekonomi rakyat, dan memperlebar ketimpangan di sektor peternakan.
Sudah saatnya tetelo tidak lagi diperlakukan sebagai takdir, melainkan sebagai peringatan keras. Jika penyakit lama ini terus diabaikan, maka yang sebenarnya sakit bukan hanya ayam, tetapi sistem peternakan kita secara keseluruhan.
Penulis : redaksi
Editor : Arjuna
Sumber Berita : dari berbagai sumber









