Oligarki: Pemodal Koruptif ‘Kuasai’ Institusi, Sumber Daya, dan Otoritas

- Redaksi

Senin, 3 November 2025 - 15:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – jmpdnews.com

Diskusi bertajuk “Oligarki, Otot, Otak, Ongkos: Hikayat Kalsel dan Indonesia” membahas masalah oligarki dalam kacamata hukum, politik, dan lingkungan berlangsung di Pendopo Mami Titien, Gang Purnama, Banjarbaru, Minggu (2/11/2025) siang.

Perspektif pertama datang dari Guru Besar Hukum Tata Negara, Denny Indrayana. Ia menilai oligarki melahirkan sistem duitokrasi yang telah membajak demokrasi Indonesia. Kondisi tersebut membuat pimpinan baik itu bupati, gubernur, hingga presiden dipilih bukan dari suara rakyat melainkan kepentingan oligarki.

“Oligarki adalah kekuatan modal yang koruptif dan destruktif karena kekuatan modalnya digunakan sebenarnya bukan untuk kepentingan publik,” ujar jebolan S3 University of Melbourne, Australia itu.

Pakar Hukum Tata Negara asal Kotabaru itu menyebut, koruptif didasarkan ketika pengusaha dengan kepentingan bisnisnya masuk ke ranah publik misalnya dengan memenangkan kursi gubernur demi kepentingan pribadi.

Sedangkan destruktif terjadi ketika hal tersebut berdampak pada kerusakan lingkungan yang diakibatkan aktivitas seperti pertambangan ilegal, perkebunan sawit, dan sebagainya.

“Perang modal melalui oligarki yang destruktif dan koruptif itu adalah persoalan yang tidak ringan yang sekarang kita hadapi,” ujar Wakil Menteri Hukum dan HAM RI 2011-2014 ini.

Pandangan selanjutnya diungkapkan oleh pegiat sosial politik demokrasi, Berry Nahdian Furqon. Baginya, oligarki adalah aliansi yang bertujuan menguasai institusi, sumber daya, dan otoritas.

“Hal ini ditujukan untuk menguasai sumber-sumber daya pabrik lalu dialihkan menjadi akumulasi modal pribadi,” kata Berry.

Kemudian Sekretaris DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) tersebut menambahkan, hal itu bisa dilihat misalnya di Kalsel yang mana hampir semua lini politiknya mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi dikuasai oligarki.

Baca Juga :  Minggu Depan Ketua DPRD Kabupaten Bekasi di Tetapkan.

Dampak yang dirasakan masyarakat yakni hilangnya akses mereka terhadap berbagai aspek mau itu sosial, ekonomi, politik, sampai lingkungan.

“Misalnya dalam politik, jangan berharap orang yang benar-benar peduli kepada masyarakat bisa masuk ke ruang politik atau kekuasaan,” jelas mantan Wakil Bupati Hulu Sungai Tengah itu.

Oleh sebab itu, tak heran jika banyak orang yang tidak jelas latar belakangnya kemudian bisa terpilih sebab ada kekuatan modal dari penguasa di baliknya.

Belum lagi akses sumber daya alam alam yang dikuasai oleh sekelompok oligarki. Sama halnya dengan usaha yang tidak akan berjalan apabila tidak berafiliasi bersama mereka.

Mantan Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) nasional 2008-2012 ini menyebut, aspek sosial pun turut dikuasai dengan budaya konsumerisme, hedonis, hingga informasi media sosial.

“Informasi-informasi itu dikuasai oleh iklan-iklan, jadwal-jadwal yang kemudian dibajak oleh kelompok-kelompok ini,“ tutur Berry.

Maka dari itu, satu-satunya jalan ialah melakukan perubahan dalam bentuk perlawanan kelompok masyarakat sipil. Bukan dengan kekerasan, tetapi melalui inisiatif masyarakat sipil lintas sektor yang memiliki satu kepedulian menuju perubahan.

Mereka bisa dari tokoh agama, mahasiswa, masyarakat, pemuda, akademisi, wartawan, atau politisi. “Bersepakat untuk bersama-sama mencari cara misalnya berdiskusi, menguatkan kapasitas dan sebagainya untuk melakukan perubahan,” sambungnya.

Apabila hal tersebut dilakukan walau secara perlahan, dirinya yakin kekuasaan oligarki yang korup dan zalim tidak akan bertahan lama.

Baca Juga :  Ketua LSM KOMPI Layangkan Surat Terbuka ke Presiden Prabowo, Begini Isinya

Terakhir, Berry berpesan, di tengah kondisi yang tidak sehat ini, warga Indonesia semestinya harus terus berbuat sesuatu, jangan malah bersikap tidak peduli.

“Kita harus selalu membuka diri walaupun kita beda suku, ras, agama, profesi, dan lain sebagainya tapi punya keinginan yang sama memperbaiki tantangan ini,” tandasnya.

Aktivis lingkungan senior, Kisworo Dwi Cahyono ikut berkomentar soal oligarki. Kini, oligarki telah menguasai aparat, penguasa, sampai dengan anggaran.

Yang jadi korban adalah lingkungan dan sumber daya alamnya ikut rusak sehingga menyebabkan bencana salah satunya banjir.

“Kalau lingkungan Kalsel ini rusak maka satu dunia kena dampaknya,” ucap Cak Kiss sapaan akrabnya.

Jika ditarik ke dalam skala yang lebih luas, hal ini pun bisa mempercepat global warming atau pemanasan global. Tentu ini menjadi ancaman yang luar biasa bagi kita semua.

Itulah mengapa, perencanaan pembangunan baik nasional maupun internasional sama-sama memprioritaskan untuk mengurangi pemanasan global agar tidak semakin panas.

“Kalau kutub selatan dan kutub utara ini mencair maka tenggelam kita, mungkin ke depan itu yang jadi kiamat besar,” beber mantan aktivis Mapala Graminea ULM itu.

Direktur Walhi Kalsel 2017-2024 itu berpesan agar bersama-sama menjaga lingkungan terutama dari perusahaan besar seperti tambang, sawit, Hutan Tanaman Industri (HTI), dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH).

“Perusahaan-perusahaan itu rata-rata memiliki puluhan ribu hektare. Itu dampaknya luar biasa tidak hanya kepada kita tapi dunia,“ tutup Cak Kis.

(Kanalkalimantan.com/fahmi)

 

Penulis : Redaksi

Editor : Arjuna

Sumber Berita : kanalkalimantan.com

Berita Terkait

Transisi Kepemimpinan dan Kedewasaan Elite Daerah
Berbekal Pengalaman Zuli Zulkipli, SH siap mengabdi menjadi Ketua ILUNI SMKN 1 Karawang
Dadang Tokoh Muda Kabupaten Bekasi Soroti Tragedi Ojol yang Terlindas Rantis Brimob Saat Demo
Ketua LSM KOMPI Layangkan Surat Terbuka ke Presiden Prabowo, Begini Isinya
Sampaikan Duka Cita Meninggalnya Affan Kurniawan, Prabowo: Pemerintah akan Menjamin Kehidupan Keluarganya
Pemred JMPD News.Com, Kans Dedi Mulyadi Menjadi Presiden Di Masa Datang Terbuka Lebar
SETARA Institute Desak Panglima TNI Tarik Telegram Dukungan Militer untuk Kejaksaan
Kasus Pemberitaan Jak TV : Dewan Pers harus dilibatkan.
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Januari 2026 - 06:54 WIB

Transisi Kepemimpinan dan Kedewasaan Elite Daerah

Senin, 3 November 2025 - 15:11 WIB

Oligarki: Pemodal Koruptif ‘Kuasai’ Institusi, Sumber Daya, dan Otoritas

Senin, 15 September 2025 - 12:40 WIB

Berbekal Pengalaman Zuli Zulkipli, SH siap mengabdi menjadi Ketua ILUNI SMKN 1 Karawang

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 11:40 WIB

Dadang Tokoh Muda Kabupaten Bekasi Soroti Tragedi Ojol yang Terlindas Rantis Brimob Saat Demo

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 09:46 WIB

Ketua LSM KOMPI Layangkan Surat Terbuka ke Presiden Prabowo, Begini Isinya

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 07:40 WIB

Sampaikan Duka Cita Meninggalnya Affan Kurniawan, Prabowo: Pemerintah akan Menjamin Kehidupan Keluarganya

Selasa, 19 Agustus 2025 - 17:12 WIB

Pemred JMPD News.Com, Kans Dedi Mulyadi Menjadi Presiden Di Masa Datang Terbuka Lebar

Selasa, 13 Mei 2025 - 07:32 WIB

SETARA Institute Desak Panglima TNI Tarik Telegram Dukungan Militer untuk Kejaksaan

Berita Terbaru

Media

AMKI Jakarta Kolaborasi Dengan Smesco Siap Dukung UMKM

Selasa, 27 Jan 2026 - 20:34 WIB

Hukum & Politik

Saat Pejabat Bebas Ganti Nomor, Negara Batasi Hak Komunikasi Warga

Selasa, 27 Jan 2026 - 18:08 WIB

Hukum & Politik

Rekayasa Kasus: KUHP Baru Ancam APH Hingga 12 Tahun Penjara

Minggu, 25 Jan 2026 - 08:54 WIB