Jakarta – jmpdnews.com – Nepal baru saja menorehkan sejarah politik yang unik. Bukan di gedung parlemen, bukan pula di tempat pemungutan suara tradisional, melainkan di sebuah server Discord.(Discord itu semacam “kampus digital + grup WhatsApp + ruang rapat online” dalam satu aplikasi)
Ribuan anak muda Nepal berinisiatif membangun “Parlemen Digital” dan menggelar pemungutan suara untuk menentukan siapa sosok yang paling layak menjabat sebagai Perdana Menteri interim. Hasilnya mengejutkan: Sushila Karki, mantan Ketua Mahkamah Agung, terpilih lewat mekanisme voting digital itu.
Sushila Karki bukan nama sembarangan. Ia dikenal bersih, tegas, dan tanpa drama. Ia juga mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang pernah menduduki kursi tertinggi pemerintahan di Nepal.
Dari Discord ke Istana
Yang menarik bukan sekadar siapa yang terpilih, melainkan bagaimana prosesnya berjalan.
Tidak ada kampanye baliho di jalan, tidak ada lobi politik di hotel mewah, tidak ada siaran TV berbiaya besar. Semua dilakukan lewat ruang digital: ratusan channel Discord, ribuan suara terkumpul, lalu menghasilkan satu keputusan bersama.
Tekanan sosial dari konsensus digital itu begitu kuat, hingga akhirnya Presiden Nepal meresmikan pilihan warga muda tersebut dengan penunjukan formal.
Prosesnya sederhana tapi mengena:
Polling digital → Konsensus publik → Tekanan sosial → Keputusan politik.
Demokrasi Generasi Baru
Fenomena ini menjadi refleksi keras bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Jika di Nepal — negara kecil di kaki Himalaya dengan sumber daya terbatas — warganya bisa membangun kanal demokrasi alternatif yang didengar pemerintah, mengapa kita tidak?
“Anak muda Nepal menunjukkan bahwa perubahan tidak bisa terus menunggu sistem lama yang makin tidak dipercaya. Mereka membangun sistem baru, lewat tools yang mereka kuasai,” kata salah satu pengamat digital democracy.
Catatan untuk Gen Z
Discord kini bukan lagi sekadar tempat ngobrol tentang game atau anime. Di Nepal, platform ini sudah menjadi kanal perubahan sosial.
Pertanyaannya: apakah generasi muda Indonesia berani melangkah ke arah serupa?
-
Kalau memimpin komunitas: bangun ruang dialog transparan.
-
Kalau menguasai teknologi: buat tools yang membantu warga bikin keputusan kolektif.
-
Kalau jadi pemimpin muda: tarik kepercayaan dengan partisipasi nyata, bukan gaya orasi lama.
Nepal sudah memberi teaser masa depan demokrasi, di mana suara netizen bukan sekadar trending di media sosial, tapi benar-benar mengubah sejarah bangsa.
Penulis : Redaksi
Editor : Arjuna
Sumber Berita : dari berbagai sumber









