Mengapa Anak Ulama, Santri Memilih Komunisme? Sebuah Kajian Politik Islam

- Redaksi

Minggu, 5 Oktober 2025 - 06:58 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(sebuah autokritik, baca sampai tuntas agar tdk gagal paham)

oleh: Nunung Kaniawati

Cikarang – jmpdnews.com – Fenomena tokoh-tokoh komunis Indonesia yang justru berasal dari keluarga Ulama, santri atau lulusan sekolah pendidikan Al Qur’an, sering dipahami secara simplistis: seolah mereka murtad dari ajaran agama. Padahal faktanya lebih kompleks dan ideologis. Mereka tidak meninggalkan Islam karena membencinya, tetapi karena tidak menemukan Islam hadir sebagai kekuatan perjuangan sosial, ekonomi, dan politik bernegara atau bentuk kekecewaan terhadap praktik keagamaan yang dianggap tidak menjawab realitas sosial dan politik dan praktek bernegara.

Pada masa kolonial dan awal abad ke-20, Islam lebih sering diajarkan sebagai ritual dan akhlak pribadi, bukan sebagai sistem perjuangan. Di ruang kosong inilah ideologi kiri, khususnya sosialisme dan komunisme, mendapat tempat. Mereka datang dengan bahasa yang konkret: soal penindasan, kapitalisme, kemiskinan, dan revolusi sosial.

Islam Ditinggalkan Bukan Karena Ajarannya, Tapi Karena Ketidakhadiran Politiknya

Banyak anak ulama dan lulusan pesantren yang hafal Qur’an, tetapi:

1. Tidak melihat ulama bicara struktur negara dan ekonomi,

2. Tidak menemukan keberanian politik dalam dakwah,

3. Tidak diperkenalkan pada Islam sebagai sistem kekuasaan dan keadilan.

Islam dipahami sebagai amal individu, bukan gerakan sosial. Sementara komunisme menawarkan:

√ Analisis penderitaan rakyat,
√ Program perjuangan kelas,
√ Organisasi massa,
√ Semangat anti-penjajahan.

Karena itu, mereka melihat logika perjuangan lebih hidup di ideologi kiri dibanding di mimbar-mimbar keagamaan.

Baca Juga :  Kenapa Pesawat Terbang Tidak Boleh Terbang di Atas Ka'bah?

Taklid, Formalisme, dan Absennya Visi Gerakan

Realitas umat saat itu memperkuat kekecewaan:
1. Taklid tanpa pemikiran: Banyak pengikut ulama yang hanya menerima tanpa mengkritisi, tanpa visi politik.

2. Ulama apolitis: Sebagian ulama menolak bicara negara, kekuasaan, atau ekonomi karena dianggap “urusan dunia”.

3. Dakwah tanpa struktur kekuasaan: Islam berhenti pada syiar, tapi tidak menyentuh strategi membangun negara.

Di titik inilah, Islam tampak tidak siap menjadi ideologi perjuangan, meskipun Al-Qur’an sarat ayat keadilan sosial, pembelaan terhadap mustadh’afin, dan perintah melawan kezhaliman.

Cokroaminoto Membaca Masalah Ini Lebih Awal

H.O.S. Cokroaminoto, guru besar dari Soekarno, Musso, Alimin, Tan Malaka, dan SM. Kartosuwiryo, melihat bahaya besar jika Islam menjauh dari politik. Ia mengingatkan:

“Barang siapa hendak membangun negara tanpa politik, sama saja ingin membuat tubuh tanpa kepala.”

Pernyataan ini adalah kritik langsung terhadap:
√ Ulama yang hanya mengurus ibadah tanpa strategi kekuasaan,
√ Umat yang hanya sibuk mengaji tanpa menyusun perlawanan,
√ Gerakan Islam yang tidak menguasai negara, ekonomi, dan organisasi.

Cokroaminoto sadar: jika Islam tidak memimpin arah perjuangan, ideologi lain akan mengisinya

Itulah yang terjadi saat sebagian santri dan anak ulama hijrah ke komunisme. Mereka mencari “kepala perjuangan”, karena tubuh umat Islam saat itu hanya berisi massa, bukan kepemimpinan politik.

Tokoh Komunis dari Latar Islam: Paradoks yang Bisa Dijelaskan

Baca Juga :  Resort Gibas Purwakarta adakan Qurban Untuk Masyarakat Dan Kepengurusan Sektor

Sejumlah nama besar komunis berasal dari kultur Islam:

Haji Misbach (santri Solo) yang awalnya membela Islam melawan kapitalisme, lalu bergabung dalam PKI karena melihat Islam tidak diorganisir secara revolusioner.

Tan Malaka, anak keluarga religius, yang kecewa Islam tidak tampil sebagai kekuatan politik pembebas.

Semaun, Darsono, Musso, Alimin, banyak yang pernah mengenyam pendidikan Islam.

begitupula DN. Aidit, anak ulama, santri mengaji, menjadi tokoh revolusioner 1965

Mereka bukan berpindah karena Islam kurang ajaran, tetapi karena umat gagal menerjemahkan Islam sebagai ide pembebasan.

Politik sebagai Jalan Iman, Bukan Pengkhianatan

Cokroaminoto tidak melihat politik sebagai kekotoran, tapi sebagai instrumen dakwah dan pembebasan. Bersama Sarekat Islam, ia membangun Islam:
√ sebagai kekuatan massa,
√ sebagai kekuatan ekonomi,
√ dan sebagai pelaku yang bertanggungjawab dalam perebutan kekuasaan kolonial.

Baginya, agama tanpa politik adalah tubuh tanpa kepala—hidup tapi lumpuh.

Jalan Keluar: Islam Harus Menjadi Ideologi Perjuangan

Agar umat tidak kehilangan generasi kritis ke ideologi lain, maka Islam harus:
✅ menampilkan diri sebagai gerakan pembebasan sosial;
✅ melahirkan ulama yang berpikir negara, bukan hanya ibadah;
✅ mengorganisasi umat dengan strategi kekuasaan;
✅ menghidupkan ayat-ayat keadilan dan perjuangan secara praksis.

Karena itu, betapa relevannya peringatan Cokroaminoto:
Barang siapa ingin mendirikan negara tanpa politik, sama saja ingin membuat tubuh tanpa kepala.”

jika Islam tidak punya kepala politik, maka tubuhnya akan dipimipin ideologi lain.

Penulis : Redaksi

Editor : Arjuna

Sumber Berita : dari berbagai sumber

Berita Terkait

7 aliran utama dalam sejarah pemikiran Islam
Polemik Mushola Hasana Damai Persada dan Ujian Negara Hukum
Dilarang Salat di Hotel, Miliarder Ini Langsung Beli Gedungnya dan Ubah Jadi Masjid
Siapa Pembunuh Umar Bin Khattab Saat Salat Subuh
Sengkarut Wakaf Di Jual Ke Proyek Pengembang
Ketua Umum PBNU Diberi Waktu 3 Hari Untuk Mengundurkan Diri
Ada Guncangan Dahsyat di Tubuh NU Ada Apa ?
Kuota Haji Kabupaten Bekasi 2024, Total 2.165 Jamaah, Potensi Penyalahgunaan Perlu Diwaspadai
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 8 Maret 2026 - 16:13 WIB

7 aliran utama dalam sejarah pemikiran Islam

Jumat, 27 Februari 2026 - 07:04 WIB

Polemik Mushola Hasana Damai Persada dan Ujian Negara Hukum

Senin, 23 Februari 2026 - 17:29 WIB

Dilarang Salat di Hotel, Miliarder Ini Langsung Beli Gedungnya dan Ubah Jadi Masjid

Sabtu, 21 Februari 2026 - 11:31 WIB

Siapa Pembunuh Umar Bin Khattab Saat Salat Subuh

Minggu, 4 Januari 2026 - 18:14 WIB

Sengkarut Wakaf Di Jual Ke Proyek Pengembang

Sabtu, 22 November 2025 - 15:15 WIB

Ketua Umum PBNU Diberi Waktu 3 Hari Untuk Mengundurkan Diri

Sabtu, 22 November 2025 - 07:25 WIB

Ada Guncangan Dahsyat di Tubuh NU Ada Apa ?

Sabtu, 11 Oktober 2025 - 08:13 WIB

Kuota Haji Kabupaten Bekasi 2024, Total 2.165 Jamaah, Potensi Penyalahgunaan Perlu Diwaspadai

Berita Terbaru

Hukum & Politik

Sniper : Waspadai Narasi Miring yang Melemahkan Plt. Bupati Bekasi

Rabu, 18 Mar 2026 - 10:51 WIB

Keuangan

Urgensi Revisi UU ASN PPPK Jadi Korban

Senin, 16 Mar 2026 - 09:48 WIB