Kejaksaan di Ujung Tanduk Kepercayaan Publik

- Redaksi

Selasa, 30 Desember 2025 - 08:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cikarang – jmpdnews.com
Rentetan operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Kabupaten Bekasi bukan sekadar perkara hukum, tetapi tamparan keras bagi wibawa kejaksaan. Ketika penegak hukum yang seharusnya menjadi benteng terakhir keadilan justru berulang kali muncul dalam pusaran perkara korupsi, maka yang runtuh bukan hanya oknum—melainkan kepercayaan publik terhadap institusi.

Situasi ini semakin sensitif ketika publik mengetahui bahwa sebagian pembangunan Kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi bersumber dari APBD Kabupaten Bekasi. Secara hukum sah, tetapi secara etik menimbulkan pertanyaan serius: sejauh mana kejaksaan benar-benar berjarak dari kekuasaan daerah yang seharusnya diawasi dan dituntutnya?

Baca Juga :  Kejati Jawa Barat Resmikan Mess Griya Adhyaksa di Kabupaten Bekasi

OTT KPK di Bekasi sempat memberi harapan bahwa hukum ditegakkan tanpa pandang bulu. Penyegelan rumah pejabat penegak hukum menjadi simbol keberanian. Namun simbol itu cepat memudar ketika proses hukum berakhir dengan kalimat yang kini terasa klise: tidak cukup bukti.

Dalam konteks kejaksaan, frasa ini bukan sekadar alasan hukum—melainkan alarm krisis legitimasi.

Masalahnya bukan pada satu perkara, melainkan akumulasi peristiwa. Ketika kejaksaan berada dalam relasi anggaran dengan pemerintah daerah, sementara pejabat daerah dan aparat penegak hukum silih berganti terseret kasus korupsi, publik sulit diyakinkan bahwa penegakan hukum benar-benar berdiri di atas jarak yang sehat dari kekuasaan.

Baca Juga :  Let's Go Kejagung, Kejati & Kejari

Kejaksaan hari ini tidak cukup hanya berkata “sesuai prosedur”. Yang dibutuhkan adalah pembuktian etik: pembersihan internal, transparansi, dan keberanian menghadapi pengawasan publik. Tanpa itu, setiap langkah hukum—benar atau salah—akan selalu dibaca sebagai bagian dari masalah.

Kabupaten Bekasi kini menjadi cermin keras bagi kejaksaan:
bangkit memulihkan wibawa, atau perlahan kehilangan kepercayaan publik.
Dan dalam penegakan hukum, kehilangan kepercayaan adalah awal dari runtuhnya segalanya.

Penulis : Redaksi

Editor : Arjuna

Sumber Berita : dari berbagai sumber

Berita Terkait

Kajari Bekasi Diduga Memeras, Rumah Disegel , Jabatan Dicopot
Kejari: Rumah Disegel, Jabatan Dimutasi bukti Kejanggalan Kasus
Kejati Jawa Barat Resmikan Mess Griya Adhyaksa di Kabupaten Bekasi
Isu Jaksa Agung Diganti, Kejagung : Hoaks !
Let’s Go Kejagung, Kejati & Kejari
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 30 Desember 2025 - 08:28 WIB

Kejaksaan di Ujung Tanduk Kepercayaan Publik

Jumat, 26 Desember 2025 - 17:45 WIB

Kajari Bekasi Diduga Memeras, Rumah Disegel , Jabatan Dicopot

Kamis, 25 Desember 2025 - 06:36 WIB

Kejari: Rumah Disegel, Jabatan Dimutasi bukti Kejanggalan Kasus

Senin, 1 Desember 2025 - 19:28 WIB

Kejati Jawa Barat Resmikan Mess Griya Adhyaksa di Kabupaten Bekasi

Senin, 19 Mei 2025 - 06:59 WIB

Isu Jaksa Agung Diganti, Kejagung : Hoaks !

Minggu, 18 Mei 2025 - 08:39 WIB

Let’s Go Kejagung, Kejati & Kejari

Berita Terbaru

Media

AMKI Jakarta Kolaborasi Dengan Smesco Siap Dukung UMKM

Selasa, 27 Jan 2026 - 20:34 WIB

Hukum & Politik

Saat Pejabat Bebas Ganti Nomor, Negara Batasi Hak Komunikasi Warga

Selasa, 27 Jan 2026 - 18:08 WIB

Hukum & Politik

Rekayasa Kasus: KUHP Baru Ancam APH Hingga 12 Tahun Penjara

Minggu, 25 Jan 2026 - 08:54 WIB