Jakarta – jmpdnews.com
Dunia bisnis properti sering kali bicara tentang angka dan profit, namun bagi Asif Aziz, bisnis adalah tentang harga diri dan pengabdian. Sosok yang dijuluki “Mr. West End” ini baru saja memberikan pelajaran berharga kepada dunia: bahwa cara terbaik membalas penghinaan bukanlah dengan amarah, melainkan dengan kesuksesan yang bermanfaat bagi orang banyak.
Kisah yang kini mengguncang publik Inggris ini bermula dari sebuah insiden diskriminatif yang dialami Aziz. Dilaporkan, pengusaha muslim ini sempat dilarang menunaikan ibadah salat di sebuah hotel mewah di pusat kota London. Bukannya melayangkan somasi atau mengamuk, Aziz melakukan tindakan yang jauh lebih “berkelas”—ia membeli gedung ikonik tersebut dan mengubahnya menjadi rumah Allah.
Balas Dendam Paling Beradab: Membeli Sang Penolak
Asif Aziz bukan sekadar miliarder biasa. Ia adalah pemilik Criterion Capital yang menguasai banyak aset properti di lokasi paling prestisius di dunia, Piccadilly Circus. Namun, insiden penolakan salat tersebut menyentuh sisi paling prinsipil dalam hidupnya.
Langkah Aziz sangat berani. Ia mengakuisisi gedung Trocadero, sebuah pusat hiburan bersejarah yang sangat terkenal di London, senilai £220 juta atau setara dengan Rp4,3 triliun. Di dalam gedung yang dulunya penuh dengan gemerlap hiburan duniawi itu, ia membangun sebuah ruang suci yang kini dikenal sebagai “Piccadilly Prayer Space”.
Menembus Tembok Penolakan Sayap Kanan
Upaya Aziz membangun masjid di jantung London tidaklah mudah. Ia sempat menghadapi rintangan birokrasi yang panjang hingga protes dari kelompok sayap kanan yang tidak setuju dengan kehadiran tempat ibadah muslim di lokasi tersebut.
Namun, dengan kesabaran seorang “singa bisnis”, Aziz terus merevisi desainnya hingga akhirnya mendapatkan izin resmi dari Westminster Council. Masjid tiga lantai itu kini mampu menampung ratusan jamaah, menjadi oasis bagi warga lokal maupun turis muslim yang kesulitan mencari tempat salat di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan London.
Warisan Lebih dari Sekadar Harta
Asif Aziz, yang pindah ke London dari Malawi sejak usia enam tahun, memahami betul rasanya menjadi minoritas yang harus berjuang. Melalui Aziz Foundation, ia membuktikan bahwa kekayaan melimpah tidak akan ada artinya jika tidak digunakan untuk mengangkat derajat agamanya.
Kini, setiap dahi yang bersujud di Masjid Trocadero menjadi pengingat bagi dunia: bahwa diskriminasi tidak akan pernah menang melawan kebaikan yang terorganisir.
“Jangan habiskan energimu untuk mendendam kepada mereka yang menolakmu. Bekerjalah sampai kamu mampu membeli tempat di mana mereka dulu menolakmu, lalu ubahlah tempat itu menjadi sumber keberkahan.”
Kisah Asif Aziz adalah tamparan paling elegan di abad ini bagi siapa pun yang masih memandang rendah martabat orang lain. Ia tidak hanya membeli gedung, ia membeli kehormatan yang tidak bisa dinilai dengan uang. (Wikipedia)
Penulis : Redaksi
Editor : Arjuna
Sumber Berita : sumber WAG FKKSKab Bekasi









