Jakarta – jmpdnews.com -Gajah dan Banteng adalah dua nama hewan yang dijadikan gelar perlambang kekuatan dimasa Majapahit dalam masyarakat Hindu-Bhuda terutama para penganut Syiwa.
Maka tak heran bila dimasa tersebut nama nama seperti Gajah Mada, Gajah Pagon, Gajah Sorengpati, Banteng Ketaton, Kebo Iwa, Mahesa Anabrang, Lembu Nala dll, bahkan nama pengawal pangeran Diponegoro yang beragama Islam dan berjihad dalam nafas Islam pun ada yang masih memakai nama nama dari era Hindu Jawa seperti Banteng Wareng misalnya sang pengawal setia pangeran Diponegoro itu.
Maka bisa dimengerti memang bila dimasa modern ini pun ada sebuah partai kecil mungil berlogo kembang mawar putih berlatar merah yang diubah logonya jadi gajah belang dengan semangat agar jadi besar dan gagah.
Namun sayang walau telah berubah ujud namun isinya bukan manusia manusia hebat seperti para pria mantab seperti di era Majapahit dulu jadi hanya berubah wujud namun tetaplah kecil sehingga hanya menjadi gajah kecil mungil saja.
narasi simbol gajah untuk PSI:
“PSI menjadikan filosofi gajah sebagai pengingat bahwa partai ini harus memiliki ingatan panjang terhadap janji-janji politiknya, kuat dalam menghadapi rintangan, dan bijak dalam mengambil keputusan. Seperti gajah yang hidup berkelompok dengan solidaritas tinggi, PSI hadir sebagai rumah politik yang solid, setia mendampingi rakyat, dan tidak melupakan sejarah perjuangan kaum muda melawan intoleransi dan korupsi.”
Penulis : Redaksi
Editor : Arjuna
Sumber Berita : dari berbagai sumber (Budisaks)









