jakarta- jmpdnews.com
Untuk kesekian kali saya membahas teori Challenge and Response dari Arnold Toynbee. Tidak ada peradaban yang abadi, pasti runtuh. Termasuk Amerika yang masih menguasai dunia saat ini, suatu saat pasti hancur mirip seperti peradaban sebelumnya. Simak lagi narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Sejarah, kalau dibaca pakai kacamata Arnold Joseph Toynbee, bukan kisah kejayaan, tapi daftar tunggu kehancuran. Ia menunjukkan, setiap peradaban besar pernah merasa dirinya pusat dunia, dan selalu salah. Yang bikin ngeri, semuanya memimpin bukan hitungan tahun, tapi abad, bahkan milenium. Semuanya, tanpa kecuali, runtuh.
Ambil Babilonia. Peradaban Mesopotamia ini mulai dominan sejak sekitar 1900 SM, ketika Hammurabi menyatukan kota-kota di lembah Efrat–Tigris. Selama hampir 14 abad, hingga ditaklukkan Persia pada 539 SM, Babilonia memimpin dunia dalam hukum, administrasi, astronomi, dan kota metropolitan. Empat belas abad bukan waktu singkat. Tapi ia runtuh bukan karena Persia jenius, melainkan karena elitnya berhenti merespons tantangan zaman. Ketika inovasi mati, tembok setinggi apa pun hanya dekorasi.
Mesir lebih lama lagi. Sejak Dinasti Awal sekitar 3100 SM hingga jatuh ke tangan Romawi pada 30 SM, Mesir memimpin dunia hampir tiga milenium. Tiga ribu tahun. Piramida berdiri, Firaun dianggap dewa, Sungai Nil jadi mesin ekonomi. Tapi justru karena terlalu stabil, Mesir membeku. Ia tak mati mendadak, ia menua, melemah, lalu diwarisi penjajah demi penjajah.
Yunani Hellenic memimpin lebih singkat, sekitar 5 abad (abad ke-5 SM hingga abad ke-1 SM), tapi pengaruhnya luar biasa. Filsafat, sains, politik berkembang pesat. Namun perang saudara, terutama Perang Peloponnesos, membuat Yunani hancur dari dalam. Romawi datang bukan sebagai pembunuh, tapi sebagai pewaris bangkai.
Romawi kemudian mengambil alih panggung dunia dari sekitar 200 SM hingga runtuhnya Romawi Barat pada 476 M, hampir 7 abad dominasi. Jalan, hukum, militer, administrasi, semuanya sempurna. Tapi dekadensi elit, krisis ekonomi, dan kekacauan politik membuat imperium itu kolaps. Musuh barbar hanyalah epilog.
Peradaban Islam memimpin dunia dari abad ke-7 hingga sekitar abad ke-13, sekitar 6 abad, dalam ilmu pengetahuan, perdagangan, dan kekuasaan global. Baghdad, Cordoba, dan Damaskus adalah pusat dunia. Tapi konflik internal dan hantaman Mongol 1258 memutus denyut kepemimpinannya. Ia tidak mati, tapi berhenti memimpin sejarah global.
Lalu datang Barat modern. Sejak sekitar 1500 M, dengan Renaissance dan Revolusi Industri, Barat, dan puncaknya Amerika Serikat pasca 1945, memimpin dunia hampir 5 abad. Ini bukan dominasi ecek-ecek: ekonomi global, militer, teknologi, budaya, dan ideologi semua berada di tangan Barat. Amerika sendiri sudah memegang tongkat komando dunia hampir 80 tahun.
Di sinilah pertanyaan paling tidak nyaman itu muncul. Jika Babilonia 14 abad runtuh, Mesir 3.000 tahun runtuh, Romawi 7 abad runtuh, mengapa Amerika harus menjadi pengecualian?
Toynbee akan menjawab dingin, tidak ada pengecualian. Yang ada hanya penundaan. Dominasi Amerika kini menunjukkan gejala klasik peradaban menua. Ada ketimpangan ekstrem, polarisasi politik, krisis kepercayaan, dan elit yang berubah dari minoritas kreatif menjadi minoritas dominan. Inilah fase yang selalu mendahului kejatuhan.
Di saat yang sama, Cina, peradaban Sinic, sedang naik fase. Ia bukan pendatang baru. Ia sudah ada ribuan tahun, jatuh-bangun berkali-kali, dan kini kembali memimpin respons terhadap tantangan global. Mulai unggul ekonomi, infrastruktur, teknologi, dan pengaruh geopolitik. Jika mengikuti pola Toynbee, Cina tidak akan menjatuhkan Amerika, Amerika akan menyingkir sendiri dari pusat sejarah, seperti Romawi dulu menyingkir di hadapan dunia baru.
Sejarah tidak bertanya siapa paling kuat. Ia hanya bertanya, siapa yang masih mampu menjawab tantangan zamannya. Yang gagal, meski sudah memimpin berabad-abad, akan masuk museum, bersama Babilonia, Mesir, dan Romawi.
Kalau kita jujur membaca pola itu, jarum kompas sejarah hari ini sudah tidak lagi menunjuk ke Washington. Perlahan menunjuk ke Cina.
Sejarah tidak pernah menghukum bangsa lemah, melainkan bangsa yang berhenti belajar dan merasa paling benar. Peradaban runtuh bukan karena musuh di luar, tapi karena tak mampu menjawab tantangan zaman. Pelajarannya jelas, jangan mabuk kekuasaan, jangan alergi kritik, dan jangan berhenti berpikir kreatif. Sebab di hadapan sejarah, yang bertahan bukan yang paling kuat, melainkan yang paling adaptif.
Sebuah pertanyaan, “Apakah Indonesia bisa memimpin peradaban dunia suatu saat nanti?”
Penulis : Redaksi
Editor : Arjuna
Sumber Berita : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar









